Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memberlakukan ketentuan baru soal harga dasar saham. Jika sebelumnya batas bawah harga saham adalah Rp50 per lembar — yang melahirkan istilah populer "saham gocap" — kini harga saham dapat diperdagangkan hingga serendah Rp1. Perubahan ini langsung berdampak pada sesi perdagangan pekan terakhir September 2026, saat IHSG melemah 1,51% ke level 6.147,86, sementara kelompok saham harga receh di bawah Rp50 justru melonjak hingga 34%.


Mengutip laporan Kontan, saham-saham seperti TAMU, BLTA, MIRA, PBRX, dan PPRO mencatat kenaikan tajam setelah aturan baru diberlakukan. Kenaikan ini bukan didorong fundamental bisnis, melainkan oleh aktivitas spekulatif dari pelaku pasar yang melihat saham-saham tersebut sebagai "aset sangat murah" yang bisa naik besar secara persentase dalam waktu singkat. Fenomena ini lazim terjadi di pasar berkembang ketika regulasi harga berubah dan membuka celah baru bagi para spekulan.


BEI sendiri menegaskan bahwa penurunan saham-saham gocap bukan pemicu utama pelemahan IHSG secara keseluruhan. Pelemahan indeks lebih dominan disebabkan oleh net sell asing sebesar Rp1,13 triliun, yang dipengaruhi kekhawatiran terhadap tekanan nilai tukar rupiah dan sinyal kebijakan suku bunga The Fed. Penting bagi investor untuk tidak menarik kesimpulan terlalu cepat bahwa satu peristiwa pasar tunggal adalah penyebab dari semua pergerakan indeks.


Ada dua risiko konkret yang perlu dicermati investor ritel dari perubahan aturan ini. Pertama, saham yang sebelumnya "terlindungi" di angka Rp50 karena adanya lantai harga kini bisa turun jauh lebih dalam. Sebuah saham yang dulu stuck di Rp50 bisa saja melorot ke Rp20, Rp10, atau bahkan lebih rendah lagi — kerugian nominal yang jauh lebih besar. Kedua, kenaikan persentase besar pada saham sangat murah sering bersifat sementara: kenaikan 34% dari Rp10 ke Rp13 bisa berbalik habis dalam beberapa sesi berikutnya.


Bagi investor yang memegang saham gocap atau sedang mempertimbangkannya, penting untuk kembali ke analisis fundamental. Harga nominal yang sangat rendah per lembar tidak otomatis berarti valuasi murah — itu bisa jadi cerminan bisnis yang sedang sangat bermasalah. Perhatikan rasio seperti PBV (Price to Book Value), tren pendapatan, dan kemampuan perusahaan membayar utang sebelum memutuskan masuk ke saham berharga sangat murah. Kenaikan singkat akibat spekulasi bukan sinyal beli yang dapat diandalkan.