Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) baru-baru ini meluncurkan proyek bernama Zankore, sebuah kolaborasi besar bersama Nokia dan NVIDIA untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Kemitraan ini menggandeng Ooredoo selaku induk usaha, Nokia sebagai penyedia infrastruktur jaringan, dan NVIDIA yang dikenal sebagai pemimpin dunia dalam chip komputasi AI. Bagi investor saham, berita semacam ini tidak cukup hanya dibaca sebagai pencapaian teknologi — perlu dilihat apa implikasinya terhadap nilai bisnis Indosat ke depan.
Zankore pada intinya adalah platform komputasi AI skala besar yang memungkinkan Indosat menawarkan layanan cloud dan kecerdasan buatan kepada perusahaan dan institusi pemerintah di kawasan Asia Pasifik. Berbeda dengan bisnis telko konvensional yang mengandalkan pendapatan dari layanan suara dan data seluler, segmen infrastruktur AI berpotensi menghasilkan pendapatan berulang (recurring revenue) dari kontrak layanan jangka panjang dengan klien korporat. Inilah yang membuat langkah ini strategis: Indosat sedang bertaruh pada pertumbuhan permintaan komputasi AI yang diproyeksikan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan.
Namun investor perlu mencermati sisi risiko. Investasi besar dalam infrastruktur fisik — seperti pusat data dan jaringan komputasi — selalu berdampak pada capital expenditure (capex) yang tinggi. Ketika capex naik signifikan, free cash flow perusahaan biasanya tertekan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kemampuan membayar dividen atau memperkuat neraca. Yang perlu diperhatikan investor ISAT adalah: seberapa besar total nilai investasi Zankore ini, bagaimana sumber pembiayaannya (kas sendiri, utang, atau penerbitan saham baru), dan berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga proyek ini mulai menghasilkan pendapatan nyata.
Sejarah industri telko global memberikan gambaran yang menarik. Operator seperti Singtel di Singapura dan NTT di Jepang yang berhasil diversifikasi ke layanan digital dan cloud cenderung menikmati pertumbuhan valuasi lebih kuat dalam jangka panjang dibanding operator yang hanya bertahan pada bisnis suara dan SMS tradisional. Indosat, sebagai operator terbesar kedua di Indonesia dengan basis pelanggan ratusan juta orang, memiliki keunggulan distribusi yang bisa menjadi daya saing jika ekosistem AI-nya berhasil dibangun.
Bagi investor yang sudah memegang ISAT atau sedang mempertimbangkannya, proyek Zankore perlu diikuti perkembangannya secara berkala. Cermati laporan keuangan kuartal ke depan: apakah pendapatan dari segmen bisnis digital mulai tumbuh, bagaimana tren capex perusahaan, dan apakah margin operasional dapat dipertahankan di tengah fase investasi besar ini. Kemitraan dengan nama sebesar NVIDIA dan Nokia tentu meningkatkan kredibilitas proyek, tetapi eksekusi di lapangan tetap menjadi faktor penentu utama apakah investasi ini akan menciptakan nilai nyata bagi pemegang saham.