Mengutip laporan Kontan, Petrosea (PTRO) membukukan laba bersih yang melonjak 612,6% menjadi US$9,17 juta. Angka ini terlihat sangat mengesankan di permukaan. Namun ada detail penting yang kerap luput: sekitar 83% dari laba tersebut berasal dari 'operasi yang dihentikan' (discontinued operations), yakni hasil penjualan anak usaha PTKMS. Artinya, laba inti dari bisnis yang berjalan normal hanya menyumbang sekitar 17% dari total angka tersebut. Inilah contoh nyata mengapa investor perlu membaca lebih dalam, bukan sekadar melihat headline.


Apa itu 'operasi dihentikan'? Dalam laporan keuangan berstandar PSAK/IFRS, perusahaan wajib memisahkan laba dari bisnis yang sudah atau sedang dalam proses dijual/ditutup dari laba bisnis yang masih berjalan normal. Pemisahan ini justru mempermudah investor yang ingin menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara berkelanjutan. Sayangnya, banyak rilis berita hanya menyebut angka total tanpa menekankan komposisi ini.


Bagaimana cara mengeceknya? Di laporan keuangan atau press release keuangan, biasanya ada baris 'Laba dari operasi yang dilanjutkan' (profit from continuing operations) dan 'Laba dari operasi yang dihentikan' (profit from discontinued operations). Untuk PTRO, laba dari bisnis inti yang masih berjalan jauh lebih kecil. Ini bukan berarti saham PTRO buruk, tapi penilaian valuasi berbasis P/E harus menggunakan angka laba berulang, bukan total laba yang sudah termasuk gain penjualan aset.


Ada konsep terkait yang juga penting: laba non-berulang (one-off gains). Selain discontinued operations, perusahaan juga bisa mencatat keuntungan satu kali dari penjualan aset, penghapusan utang, atau selisih kurs. Kalau perusahaan rutin memiliki item semacam ini, perlu dicermati apakah itu memang bagian dari model bisnisnya atau sekadar 'trik akuntansi' untuk memoles angka tahunan.


Pelajaran utama untuk investor ritel: jangan berhenti di angka pertumbuhan laba yang tertera di berita. Selalu cari tahu dari mana pertumbuhan itu berasal. Tanyakan:

- Apakah laba ini bisa berulang tahun depan?

- Berapa laba dari operasi inti yang masih berjalan?

- Apakah ada item luar biasa (extraordinary) atau one-off yang menggembungkan angka?


Jika jawaban atas pertanyaan itu menunjukkan laba inti masih kecil, maka pertumbuhan 600%-an bisa jadi tidak relevan untuk proyeksi ke depan. Harga saham pada akhirnya mencerminkan ekspektasi laba berulang, bukan laba sekali jalan dari penjualan aset.