PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) baru-baru ini mengumumkan rencana rights issue sebesar 154,78 miliar saham baru, dengan potensi dilusi mencapai 95,24 persen. Angka dilusi sebesar itu tergolong ekstrem — artinya, jika semua saham baru terserap, jumlah total saham beredar akan hampir dua kali lipat. Bersamaan dengan itu, perseroan juga menyiapkan empat aksi korporasi sekaligus, termasuk akuisisi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) senilai Rp 2 triliun.


Dilusi adalah kondisi saat kepemilikan saham seorang investor 'terkikis' karena perusahaan menerbitkan saham baru. Misalnya, jika Anda memiliki 1.000 saham dari total 10.000 saham yang beredar (artinya porsi Anda 10%), lalu perusahaan menerbitkan 10.000 saham baru sehingga total menjadi 20.000, porsi Anda langsung turun ke 5% — meski jumlah lembar saham Anda tidak berubah. Pada kasus DOOH dengan dilusi 95,24 persen, efeknya jauh lebih dramatis: pemegang saham lama yang tidak ikut rights issue berpotensi kehilangan hampir separuh porsi kepemilikannya secara proporsional.


Dalam mekanisme rights issue, pemegang saham lama biasanya mendapatkan hak terlebih dahulu (preemptive right) untuk membeli saham baru dengan harga tertentu — lazimnya di bawah harga pasar. Ada tiga pilihan yang bisa diambil: (1) menggunakan hak tersebut dan membeli saham baru, sehingga porsi kepemilikan tidak terdilusi; (2) menjual hak tersebut (HMETD) di pasar jika hak itu diperdagangkan; atau (3) tidak melakukan apa pun dan menerima dilusi. Pilihan ketiga umumnya yang paling merugikan, terutama bila dilusi sangat besar seperti pada kasus DOOH.


Yang perlu diperhatikan investor adalah tujuan penggunaan dana rights issue. Jika dana yang dihimpun digunakan untuk akuisisi bisnis yang secara fundamental memperkuat perseroan — seperti rencana akuisisi INET senilai Rp 2 triliun — maka dilusi besar pun bisa 'dimaafkan' jika nilai yang diperoleh sepadan. Sebaliknya, jika dana digunakan untuk menutup utang atau membiayai operasional yang merugi, dilusi besar menjadi tanda bahaya. Investor perlu membaca prospektus atau keterbukaan informasi resmi di situs BEI untuk memahami rincian penggunaan dana.


Untuk investor ritel yang sudah memiliki saham DOOH, langkah pertama adalah memastikan apakah Anda memiliki modal dan keyakinan yang cukup untuk ikut rights issue — terutama karena skala dilusi yang sangat besar ini membuat risiko bagi yang tidak ikut jauh lebih tinggi dari rata-rata. Bagi yang belum memiliki, rights issue besar seperti ini sebaiknya tidak dijadikan alasan masuk semata-mata karena harga saham baru terlihat murah, tanpa memahami arah bisnis ke depan. Cermati selalu rasio harga terhadap nilai buku (PBV) dan prospek pendapatan pasca-akuisisi sebelum mengambil keputusan.