Discounted Cash Flow atau DCF adalah metode valuasi yang dianggap paling fundamental dan akademis untuk menentukan nilai wajar suatu perusahaan. Prinsipnya sederhana yaitu nilai perusahaan hari ini sama dengan total seluruh arus kas masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang.
Langkah pertama adalah memproyeksikan free cash flow perusahaan untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan. Free cash flow dihitung dari arus kas operasional dikurangi capital expenditure. Proyeksi ini memerlukan pemahaman mendalam tentang bisnis perusahaan, industri, dan prospek pertumbuhannya.
Discount rate yang digunakan biasanya adalah Weighted Average Cost of Capital atau WACC yang mencerminkan biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan dari sumber ekuitas dan utang. WACC yang lebih tinggi berarti risiko lebih besar dan nilai sekarang dari arus kas masa depan menjadi lebih kecil.
Setelah periode proyeksi eksplisit, dihitung terminal value yang merepresentasikan nilai perusahaan setelah periode proyeksi. Metode yang umum digunakan adalah perpetuity growth model dengan asumsi pertumbuhan konstan selamanya. Terminal value biasanya menyumbang 60 hingga 80 persen dari total valuasi DCF.
Kelemahan utama DCF adalah sensitivitasnya terhadap asumsi. Perubahan kecil pada tingkat pertumbuhan atau discount rate bisa mengubah hasil valuasi secara drastis. Oleh karena itu, selalu lakukan sensitivity analysis dengan berbagai skenario dan gunakan DCF sebagai salah satu dari beberapa metode valuasi, bukan satu-satunya acuan keputusan investasi.