Pepatah lama mengatakan jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Dalam dunia investasi, prinsip ini dikenal sebagai diversifikasi. Tujuannya sederhana yaitu mengurangi risiko kerugian besar jika salah satu investasi mengalami penurunan.


Diversifikasi bisa dilakukan di beberapa level. Pertama, diversifikasi antar sektor. Jangan hanya membeli saham perbankan, tetapi sebarkan ke sektor konsumer, teknologi, kesehatan, dan infrastruktur. Ketika satu sektor terpuruk, sektor lain mungkin sedang berkinerja baik.


Kedua, diversifikasi antar kelas aset. Selain saham, pertimbangkan obligasi, reksa dana, emas, atau properti. Setiap kelas aset memiliki karakteristik risiko dan return yang berbeda, sehingga kombinasinya menciptakan portofolio yang lebih stabil.


Ketiga, diversifikasi geografis. Dengan semakin mudahnya akses ke pasar saham global, Anda bisa berinvestasi di saham luar negeri untuk mengurangi risiko yang terkait dengan ekonomi satu negara saja.


Berapa banyak saham yang ideal? Umumnya, memiliki 10 hingga 15 saham dari berbagai sektor sudah cukup memberikan diversifikasi yang baik tanpa membuat portofolio terlalu sulit dikelola. Terlalu banyak saham justru bisa menurunkan potensi return karena fokus Anda terpecah.